BAYI ITU PUN AKHIRNYA MENANGIS

Pada suatu hari lahir seorang bayi. Ia tidak menangis tidak juga tertawa. Ia hanya terpejam dan merasakan angin malam di kulitnya yang merah muda. Fakta bahwa bayi tidak tertawa ketika lahir ke dunia membuat semua merasa lega. Seorang ibu dipastikan tercekat jika mendapati bayinya tertawa cekikian saat terlahir, seakan-akan berkata dengan gembira, Lihat! Aku akhirnya lahir, aku akhirnya lahir. Tetapi bayi yang tidak menangis membuat semua orang merasa lebih cemas lagi. Bayi itu hanya bernafas.

Ibu muda itu bersedih melihat bayinya diam saja. Ia menangis karena merasa manusia kecil di tangannya itu menyesal telah hadir di dunia. Ia menangis karena tidak tahu siapa ayah manuisa kecil ini.

Ia lupa, lelaki mana yang membuat bayi itu harus lahir ke dunia.

Beberapa bulan lewat, bayi itu tidak juga menangis. Ibunya telah pulih total dan karena suatu alasan tertentu yang dilakukannya hanya melamun sepanjang hari. Seperti sebuah tempat penampungan air yang semua isinya tiba-tiba tumpah, perempuan itu menangis. Ia menangis, menangis begitu lama, lantas Ia bangkit dari tempat duduk, matanya yang merah bengkak terbuka lebar seakan sesuatu termampatkan dalam benaknya dan butuh tempat untuk keluar, wajahnya dingin dan dengan cekatan ia mengambil semua barang-barangnya. Sebelum kabur dari panti sosial itu, ia menyelinap masuk dapur dan mengambil sebuah keranjang parsel.

Ibu muda itu berjalan sepanjang siang menyisir kota, hingga sampai di depan sebuah rumah besar. Ia telah bulat hati memutuskan untuk meninggalkan bayi itu di keranjang dan menaruhnya di depan pintu panti asuhan sebagaimana lazimnya terjadi pada opera sabun.

Dengan tergesa Ia menaruh keranjang berisi bayi di depan pintu.

Ibu muda itu kabur menuju kegelapan malam, meninggalkan bayinya sendiri tertidur lelap. Di balik sebuah pohon besar ia  memandangi keranjang yang senyap itu. Ia berharap bayi itu menangis menjerit-jerit sehingga rasa iba muncul dalam hatinya. Andai itu terjadi ia akan berlari dan mengambil keranjang itu lagi. Tetapi keheningan malam dengan segala suaranya menelan suara nafas—satu-satunya yang terdengar dari bayi itu.

 

-----------

Pagi tiba, bayi itu bangun dari tidur dan mulai merasa lapar. Tetapi karena tidak menangis, bayi itu hanya kelaparan saja dan tidak satu pun di dunia ini yang tahu bahwa ia kelaparan.

Matanya yang kecil menatap lurus ke langit-langit teras panti asuhan itu. Seekor cicak berlarian dan mata bayi itu mengerjap-ngerjap menyaksikan mahluk-mahluk itu. Pikiran bayi belum mampu mencerna apapun karena memang akal manusia baru mulai 'berfungsi' hanya pada usia tertentu. Tetapi otaknya mampu merespon segala macam rangsangan seperti rasa dingin, rasa sakit, rasa lapar, dan rasa kesepian.

Bayi itu merasa begitu kesepian dan kalau saja ia mau menangis pasti dunia akan tahu kalau ia sedang kesepian. Tetapi ia tidak mau menangis. Angin berembus di pagi hari yang dingin itu. Matahari baru saja muncul dan sedikit cahaya mulai menerangi langit.

Cicak-cicak semakin banyak berseliweran di langit-langit dan rasa sepi yang mendera bayi itu sedikit berkurang. Udara pagi berembus, menumbuk keranjang yang penuh lubang itu. Kalau saja bayi itu mau menangis, pasti dunia akan tahu kalau tubuhnya kedinginan. 

Di sekitarnya kehidupan mulai berlangsung. Burung-burung terbangun dari tidur dan berkicauan. Sungguh suara yang indah, pikir bayi itu kalau saja ia sudah bisa berpikir. Tetapi akalnya belum berfungsi dan otaknya hanya merespon suara-suara itu sebagai rangsangan yang memacu produksi endorfin.

Syaraf bayi itu menjadi rileks saat endorfin mengalir dalam darah dan perasaan yang menyenangkan itu membuatnya menyunggingkan senyum. Ia menggerak-gerakkan tangannya seolah hendak meraih cicak di langit-langit. Bayi itu dihinggapi perasaan yang baru pertama kali ia rasakan : semangat dan euforia. Tetapi hanya dengan senyum saja tidak akan berguna karena dunia tidak pernah bisa mendengar senyuman sehingga selama beberapa jam yang berlangsung kemudian, bayi itu harus bertahan dari rasa lapar.

Bayi itu tertawa ketika dua ekor cicak berkelahi dan salah satunya terjatuh mendarat di wajahnya. Ia merasakan sentuhan cicak itu begitu lembut menggelikan. Sambil tertawa kedua tangannya bergerak-gerak penuh semangat. Tetapi tertawa saja tidak berguna karena tidak seorang pun akan mampu mendegar suara tawa yang tertelan oleh suara-suara lain.

Jalanan mulai sibuk. Ibu-ibu keluar mengerubungi penjaja sayuran untuk membeli bahan makanan dan sedikit bergunjing. Pria-pria dewasa bersiap-siap pergi ke kantor. Aktivitas dunia mulai berjalan sebagaimana mestinya.

Beberapa jam kemudian matahari mulai sedikit terasa menyengat. Pukul sembilan pagi dan bayi itu masih sendirian di situ. Semua penghuni panti asuhan itu pastinya sedang tertidur lelap. Barangkali setelah pesta semalam, jika saja memang ada pesta. Tetapi bayi itu tidak peduli apakah ada pesta atau tidak karena ia belum memahami apa artinya itu. Satu-satunya hal yang dirasakannya hanyalah rasa lapar berkepanjangan yang membuat perutnya terasa sakit. Ia tidak tahu bahwa rasa sakit pada perut dan kering di tenggorakan merupakan petunjuk bahwa ia belum mendapatkan susu sedikitpun sejak tengah malam tadi. Meski demikian otaknya mampu merespon itu sebagai rangsangan bahwa tubuh sedang kekurangan zat untuk dijadikan energi. Hanya saja, rangsangan itu tidak dapat diekspresikan dalam satu-satunya tindakan yang mampu dilakukan seorang bayi karena bayi itu tidak mau menangis.

Tengah hari pun tiba. Kemana orang-orang di panti asuhan ini? Bayi itu akan bertanya demikian kalau saja ia sudah mampu bertanya-tanya. Tidak seorang pun keluar dari bangunan itu hingga sore tiba. Bayi itu menderita rasa lapar yang menyiksa. Ia seharian penuh berpuasa dan hal itu sungguh tidak menyenangkan.

Matahari mulai tenggelam. Dalam bentuk pikiran paling sederhana, bayi itu kecewa karena ia menyadari dunia merupakan tempat yang teramat sepi. Penderitaan memang guru yang sangat berarti bagi manusia dan dalam usianya yang baru beberapa bulan, bayi itu sudah merasakan pelajaran hidup yang paling penting itu.

Malam pun tiba dan bayi itu merasakan kegelapan di sekitarnya. Ia ketakutan tetapi bukan dalam arti yang mampu dipahami karena tidak ada ekspresi yang menunjukan hal itu. Kalau saja bayi itu mau menangis dan menunjukan bahwa ia merasa ketakutan dan kedinginan.

Cicak-cicak tidak muncul lagi karena kedinginan dan gerimis mulai turun, membuat udara bertambah-tambah dinginnya. Bayi itu mulai mengantuk tapi semua rasa sakit, rasa dingin, dan rasa takut menahannya untuk memejamkan mata. Untuk pertama kalinya bayi itu merasa ingin menangis tetapi ia tidak tahu caranya karena belum pernah melakukan itu sebelumnya. Keinginannya untuk menangis semakin menggebu ketika cipratan air hujan menerjang keranjang tempatnya tidur.

Tubuh bayi itu menjadi basah dan menggigil. Untungnya hujan itu tidak berlangsung lama dan berhenti di tengah malam. Awan telah terkuras habis dan bulan kini muncul menerangi apapun dibawahnya. Kegelapan yang sebelumnya mengusai bayi itu kini sedikit berkurang dan sebentuk perasaan lega yang sederhana merasuki bayi itu.

Bersama suara jangkrik bayi itu mulai terlelap tidur hingga pagi berikutnya tiba.

Langit perlahan-lahan menjadi terang dan suara-suara ayam serta burung terdengar dimana-mana. Bayi itu terbangun dari tidurnya dan hal pertama yang ia pikirkan adalah cicak-cicak. Kemana mereka semua?  Begitu ujarnya dalam hati, dalam bentuk pikiran yang paling sederhana tentu saja. Cicak-cicak itu masih tertidur karena pagi ini udara begitu dingin dan siapapun pasti lebih senang kembali meringkuk di balik selimut. 

Bayi itu penasaran dimana cicak-cicak berada. Hingga matahari pukul sembilan kembali muncul, cicak-cicak itu belum juga datang. Bayi itu merasakan sekaligus semua rasa yang belum ia pahami : kesepian, kelaparan, dan kedinginan. Hanya perlu tangisan sebentar saja agar seluruh dunia bisa mengetahui perasaan bayi itu, akan tetapi bayi itu tetap tidak mau menangis.

Di pikirannya yang belum berbentuk dan lebih mirip dengan bubur encer, ia tidak henti-hentinya bertanya, kemana perginya cicak-cicak itu? Ia bertahan selama berjam-jam seperti itu sembari terus menanti munculnya cacak-cicak. Tetapi siang datang dan berlalu, kemudian sore kembali tiba dan cicak-cicak tidak mau muncul.  Bayi itu pun menyerah dan ia memejamkan mata seraya tubuhnya yang lemah semakin bertambah lemah, ditinggalkan daya hidup pandangannya menjadi buram, matanya terpejam.

Tidak lama kemudian semut-semut mulai datang mengerubungi.

 

 

Tepat di sebelah panti asuhan tempat bayi itu berbaring di keranjangnya, dibatasi oleh tembok yang tidak begitu tinggi, terdapat sebuah bangunan dengan halaman yang sangat luas. Tampak puluhan anak-anak sedang bermain-main di atas rumput. Jika melihat pemandangan itu, perempuan muda yang meninggalkan bayinya di keranjang tentu akan sadar bahwa ia telah berpikir keliru. Rumah yang ia pikir panti asuhan rupanya hanyalah sebuah bangunan kosong tak berpenghuni.

Akan tetapi, pada waktu yang tidak diduga-duga, tidak lama sebelum bayi itu berhenti bernafas dan mulai dihabisi oleh segerombolan semut, seorang bocah laki-laki menendang bolanya terlalu keras sehingga terbang melampaui tembok. Dengan keberanian seorang petualang kecil ia memanjat tembok itu. Begitu mendarat di halaman bangunan yang kosong, ia melihat bolanya di dekat sebuah keranjang. Dengan penasaran ia mendekati keranjang itu. Bocah itu terpaku mendapati seseorang sedang terbaring disitu dengan semut-semut berkerumun seolah itu adalah seonggok makanan. Dengan perasaan sedih, bocah itu menatap bayi yang tidak lagi bergerak dan ia mulai menangis dengan begitu kerasnya. Suara tangisannya begitu keras sehingga membangunkan si bayi yang dalam pikiran sederhananya sedang memikirkan cicak-cicak.

Melihat bayi membuka matanya, bocah itu mengehentikan tangisannya dan segara mengusir semut-semut yang berkerumun, lantas membawa keranjang melalui tembok rendah itu. Kepada teman-temannya bocah itu berteriak.

“Hei, lihat! Aku nemu bayi! Aku nemu bayi”.

Ia menunjukan temuannya dengan bangga dan anak-anak itu segera mengerubungi keranjang, bergantian menyentuh bayi yang kini telah sepenuhnya terbangun dari tidur. Bayi itu penasaran karena begitu banyak makhluk-makhluk aneh yang mengerumuninya. Pikirannya segera menghubungkan rasa penasarannya dengan sesuatu yang begitu ia inginkan, cicak-cicak!

Ia merasa begitu bahagia karena ia pikir cicak-cicak telah kembali. Lantas, bayi itu pun akhirnya menangis.


Comments

Popular Posts